sioux terbangun, sinar bermain-main oleh angin memaksa ia untuk membuka kelopak matanya. perlahan ia mencoba duduk, tangannya merasakan tekstur lantai yang dingin dan kasar. berkunang-kunang, namun ia bisa melihat jendela besar tempat sinar tadi masuk. sinar itu masih disana, bergoyang-goyang. sioux mencoba berdiri, jeans nya robek di lutut namun darahnya sudah mulai mengering. tidak ingat kapan dia jatuh, tidak dapat mengenali juga tempat apa ini. sebuah kamar berdebu berlantai batu, sioux berjalan tertatih ke arah jendela.
kaca-kacanya sudah hilang, kerangkanya juga sudah agak lapuk. menengadah sioux ingin melihat langit, karena ia masih tidak bisa menebak waktu. tertegun bingung sioux menjulurkan kepalanya lebih jauh, hampir terjatuh ia segera menarik diri kembali ke kamar. tidak yakin dengan langit yang barusan ia lihat. apakah itu langit? ya, langit itu letaknya di atas kan? tadi dia menjulurkan kepala dan melihat ke atas kok. hmm. mungkin ia harus keluar untuk memastikan.
sioux menemukan pintu kayu besar di ujung kamar, sedikit terbuka. ia keluar pintu, sedikit terkejut saat kakinya yang tanpa alas melesak di atas karpet tebal sepanjang koridor. menengok kiri-kanan, tidak ada tanda-tanda kehidupan lain. di kanan koridor terlihat membelok, di kiri jauh di ujung ia melihat pintu. sioux berjalan pelan menuju pintu di ujung kiri koridor. melihat kakinya melesak ke dalam karpet tebal, nyaman. sesampainya di depan pintu, lantai kembali terbuat dari batu kasar dan dingin. ada sepasang sandal rumah, agak kebesaran untuk sioux tapi ia memasukkan kakinya ke dalam sandal dan membuka kenop pintu perlahan.
agak sedikit berderit dan berat, sioux membuka pintu secukup badan kecilnya. udara di luar terasa...aneh. ada pohon, ada rumput, ada angin, tapi kenapa rasanya seperti di dalam ruangan ya? seperti malam, tapi udaranya tidak seperti udara malam. dingin, hangat, seperti tidak tercampur. sioux teringat langit, segera ia menengadah. mencari bagian-bagian pohon yang jarang, ia ingin benar-benar memastikan mengapa langitnya tidak biru? tidak hitam juga. apa itu yang menaungi? benarkah itu langit? mengapa berwarna hijau, biru, cokelat..mengapa seperti peta? apakah cermin yang menjadi langitnya?
sioux merasa gamang.
apa ini? dunia apa ini? langitnya adalah cermin. ia terlalu kecil untuk bisa melihat pantulan dirinya tapi ia tahu, itu pantulan hutan, ada sungai besar juga, dan ... apakah itu kota? atau desa? lehernya terasa sakit, sioux menunduk dan duduk. bingung.
-bersambung-
Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts
Thursday, December 30, 2010
Saturday, December 11, 2010
wacana dari sebuah 'proper farewell'
dan tahukah kamu?
aku baru mengadakan rapat dari hati ke hati bersama diriku yang lain.
padahal aku mau tidur, tapi mereka egois sekali menyerobot masuk dan mengobrol, membuat aku mau tidak mau jadi mendengarkan dan ikut dalam 'rapat' mereka ini. dasar.
jadi ternyata, --maaf ya, aku memang suka bertele-tele kalau bercerita. aku ingin kalian semua menempatkan diri menjadi aku dan, yah, kurang-lebih jadi sedikit lebih mengerti lah..-- setelah ngobrol, yah, ternyata memang aku sendiri, tampaknya, yang memposisikan aku di dalam situasi ini.
hahahaha, posisi apa? dasar ga jelas.
iya sebentar, ini baru mau di jabarkan..
ternyata aku sebenarnya sudah bisa move on lho.
akunya aja yang ga sadar bahwa ternyata...aku tinggal melangkah dan meninggalkan lho.
wow.
dan selama ini aku terus berkutat, bingung sendiri aku sebenarnya udah di level mana.
apakah masih di level 'stuck', level 'mondar-mandir'...sebenarnya aku masih berpikir aku lagi di dalam level 'mondar-mandir' sih. yang jelas aku sudah ga mau terima kalau ddibilang masih di level 'stuck' ya. aku merasa aku sudah lewat tapi masih bingung mau ngapain. karena udah kelamaan ada di level 'mondar-mandir' aku jadi hilang arah.
padahal ternyata aku sudah sampai di ujung level mondar-mandir. aku sudah tinggal melangkah, keluar, dan --setelah sekian lama-- menyambut dunia baru, level baru. hidup. hahahahaha
tapi yah, setelah sadar barusan....aku, hmmm, aku jadi bingung. melangkah atau stay dulu ya?
aaaa...iya iya aku tahu, gemes kan? tinggal ngelangkah gitu.
tapi rasanya sayang. aku tahu aku tinggal melangkah, tapi rasanya masih ingin menikmati sedikit lebih lama lagi disini.
menyentuh rambutnya diam-diam. mengecup dahi nya saat dia tidur. tersenyum tulus sambil menatap matanya. aku ingin mengucapkan farewell in a proper way.
kamu tahu?
aku stuck dengan cowo ini 4 tahun lho.
dengan segala usaha mencoba untuk struggle out.
dan saat semua sudah selesai. aku sudah benar-benar berada di ujung pintu terakhir, ini teh. aku sudah tahu lah celahnya keluar masuk tiap-tiap level.
ga boleh ya aku main-main lagi, masuk ke dalamnya, menyusuri semua yang sudah aku lewati, jejak-jejak yang sudah aku buat, melihat-lihat sambil meraba tiap diniding dan coretan yang aku torehkan selama ini. lalu, baru berjalan melangkah keluar, perlahan. sambil menengok sedikit ke belakang, menatap mu dengan tatapan sayang.
dan berkata,'sudah ya. aku pergi sekarang. kamu jangan kangen berlebihan lagi padaku. semua level dan labirin, semua pintu dan tangga-tangga itu sudah aku lewati lho. aku memang tidak sadar bagaimana cara aku berhasil melewati mereka, tapi aku ingat tiap rasa dan langkahnya. kau menarikku lagi pun, sudah tidak ada lagi artinya. aku sudah hafal jalan keluar dan trik nya. jadi, ini selamat tinggal. oke? tenang, aku masih hafal kamu kok. aku hanya akan melihatmu dari sisi seberang saja sekarang. bukan dari dalam.'
mungkin nanti, saat kamu sudah bangun dan sudah sarapan, bila mood kamu sedang lumayan bagus, aku akan mengajak mu,'would you walk with me? for a while?' aku kasih senyumku yang paling manis deh, yah?
lalu kita berjalan perlahan.
kamu bingung. 'apa sih?'
hehehe. aku cengengesan dengan muka sok imut. senyum sok polos.
berjalan pelan-pelan aja, muterin kompleks kuldesak, udara pagi bandung yang gerimis. dingin, bikin masuk angin.
tidak, aku tidak akan berkata apa-apa padamu.
hanya menikmati tiap langkah di samping mu saja. seperti ibu yang berjalan-jalan bersama anaknya, sebelum si anak berangkat merantau.
karena di pertemuan kita selanjutnya, aku akan melihatmu dari sisi yang berbeda.
kamu? aku tidak tahu.
mungkin saat kita sudah selesai memutar jalan, aku akan memelukmu sebentar. mengecup? hmm. tidak tahu.
sedih? senang?
masih bercampur.
yang bikin aku yakin akan melangkah keluar pintu? ingatan bahwa sebenarnya kamu ini brengsek dan aku selalu membenci diriku yang mau-maunya dibrengsekin lagi dan lagi sama kamu. dan gigit jari, dan ga bisa menolak, dan mengerti terus-menerus mengerti. maklum, maklum, maklum. karena aku sudah hafal kamu, kebiasaan dan tabiat kamu, jadi aku merasa harus maklum saja.
ayolah, lama lho, 4 tahun baru aku benar-benar sadar dan bangun.
cape yah? mayaaaaaaaann..~
jadi yaa, gitu deh.
sudahlah, ini juga baru wacana ko.
gatau ya nanti aku benar-benar punya keberanian untuk mengajak dia keliling komplek atau ngga.
hahahaha, aaahh capeeee..
aku baru mengadakan rapat dari hati ke hati bersama diriku yang lain.
padahal aku mau tidur, tapi mereka egois sekali menyerobot masuk dan mengobrol, membuat aku mau tidak mau jadi mendengarkan dan ikut dalam 'rapat' mereka ini. dasar.
jadi ternyata, --maaf ya, aku memang suka bertele-tele kalau bercerita. aku ingin kalian semua menempatkan diri menjadi aku dan, yah, kurang-lebih jadi sedikit lebih mengerti lah..-- setelah ngobrol, yah, ternyata memang aku sendiri, tampaknya, yang memposisikan aku di dalam situasi ini.
hahahaha, posisi apa? dasar ga jelas.
iya sebentar, ini baru mau di jabarkan..
ternyata aku sebenarnya sudah bisa move on lho.
akunya aja yang ga sadar bahwa ternyata...aku tinggal melangkah dan meninggalkan lho.
wow.
dan selama ini aku terus berkutat, bingung sendiri aku sebenarnya udah di level mana.
apakah masih di level 'stuck', level 'mondar-mandir'...sebenarnya aku masih berpikir aku lagi di dalam level 'mondar-mandir' sih. yang jelas aku sudah ga mau terima kalau ddibilang masih di level 'stuck' ya. aku merasa aku sudah lewat tapi masih bingung mau ngapain. karena udah kelamaan ada di level 'mondar-mandir' aku jadi hilang arah.
padahal ternyata aku sudah sampai di ujung level mondar-mandir. aku sudah tinggal melangkah, keluar, dan --setelah sekian lama-- menyambut dunia baru, level baru. hidup. hahahahaha
tapi yah, setelah sadar barusan....aku, hmmm, aku jadi bingung. melangkah atau stay dulu ya?
aaaa...iya iya aku tahu, gemes kan? tinggal ngelangkah gitu.
tapi rasanya sayang. aku tahu aku tinggal melangkah, tapi rasanya masih ingin menikmati sedikit lebih lama lagi disini.
menyentuh rambutnya diam-diam. mengecup dahi nya saat dia tidur. tersenyum tulus sambil menatap matanya. aku ingin mengucapkan farewell in a proper way.
kamu tahu?
aku stuck dengan cowo ini 4 tahun lho.
dengan segala usaha mencoba untuk struggle out.
dan saat semua sudah selesai. aku sudah benar-benar berada di ujung pintu terakhir, ini teh. aku sudah tahu lah celahnya keluar masuk tiap-tiap level.
ga boleh ya aku main-main lagi, masuk ke dalamnya, menyusuri semua yang sudah aku lewati, jejak-jejak yang sudah aku buat, melihat-lihat sambil meraba tiap diniding dan coretan yang aku torehkan selama ini. lalu, baru berjalan melangkah keluar, perlahan. sambil menengok sedikit ke belakang, menatap mu dengan tatapan sayang.
dan berkata,'sudah ya. aku pergi sekarang. kamu jangan kangen berlebihan lagi padaku. semua level dan labirin, semua pintu dan tangga-tangga itu sudah aku lewati lho. aku memang tidak sadar bagaimana cara aku berhasil melewati mereka, tapi aku ingat tiap rasa dan langkahnya. kau menarikku lagi pun, sudah tidak ada lagi artinya. aku sudah hafal jalan keluar dan trik nya. jadi, ini selamat tinggal. oke? tenang, aku masih hafal kamu kok. aku hanya akan melihatmu dari sisi seberang saja sekarang. bukan dari dalam.'
mungkin nanti, saat kamu sudah bangun dan sudah sarapan, bila mood kamu sedang lumayan bagus, aku akan mengajak mu,'would you walk with me? for a while?' aku kasih senyumku yang paling manis deh, yah?
lalu kita berjalan perlahan.
kamu bingung. 'apa sih?'
hehehe. aku cengengesan dengan muka sok imut. senyum sok polos.
berjalan pelan-pelan aja, muterin kompleks kuldesak, udara pagi bandung yang gerimis. dingin, bikin masuk angin.
tidak, aku tidak akan berkata apa-apa padamu.
hanya menikmati tiap langkah di samping mu saja. seperti ibu yang berjalan-jalan bersama anaknya, sebelum si anak berangkat merantau.
karena di pertemuan kita selanjutnya, aku akan melihatmu dari sisi yang berbeda.
kamu? aku tidak tahu.
mungkin saat kita sudah selesai memutar jalan, aku akan memelukmu sebentar. mengecup? hmm. tidak tahu.
sedih? senang?
masih bercampur.
yang bikin aku yakin akan melangkah keluar pintu? ingatan bahwa sebenarnya kamu ini brengsek dan aku selalu membenci diriku yang mau-maunya dibrengsekin lagi dan lagi sama kamu. dan gigit jari, dan ga bisa menolak, dan mengerti terus-menerus mengerti. maklum, maklum, maklum. karena aku sudah hafal kamu, kebiasaan dan tabiat kamu, jadi aku merasa harus maklum saja.
ayolah, lama lho, 4 tahun baru aku benar-benar sadar dan bangun.
cape yah? mayaaaaaaaann..~
jadi yaa, gitu deh.
sudahlah, ini juga baru wacana ko.
gatau ya nanti aku benar-benar punya keberanian untuk mengajak dia keliling komplek atau ngga.
hahahaha, aaahh capeeee..
Subscribe to:
Posts (Atom)